Mengidentifikasi Keadaan Darurat Di Kapal

Mengidentifikasi Keadaan Darurat Di Kapal
Sumber: Alamy.com




Kecelakaan “kecil dan menengah” yaitu kecelakaan yang dinilai masih dapat dikendalikan / diatasi oleh kapal sendiri, kapal masih dapat beroperasi dan tidak membahayakan awak kapal, kapal dan muatannya, dalam arti: Dapat diperbaiki oleh Nakhoda dan atau tanpa saran - saran dari kantor dengan dilakukan perbaikan tetap atau sementara.

Selain itu yang masuk Alert 1 adalah Oil Pollution (tumpahan minyak) dari 1 galon sampai dengan 20 galon yaitu pencemaran yang masih dapat dikendalikan / diatasi, kapal masih bisa beroperasi dan tidak membahayakan lingkungan, dalam arti: Tumpahan minyak dapat dilokalisir / diatasi oleh Nakhoda / ABK dengan atau tanpa bantuan pihak pelabuhan, terminal atau jetty dimana kapal berada. Dengan atau tanpa saran – saran dari kantor dalam mengatasi tumpahan minyak. Keadaan Darurat ALERT - 1 harus dilaporkan ke Kantor Pusat tidak lebih dari 60 menit setelah kejadian.

#Alert - 2 / RED ALERT (Siaga 2 atau SIAGA MERAH)


Merupakan “kecelakaan besar“ seperti luka / cidera, polusi, epidemi, tabrakan, kebakaran ledakan, kandas, pembajakan, kerusakan besar, kerusakan karena cuaca atau keadaan darurat lainnya yang timbul dan memerlukan bantuan segera dari pihak ke - 3 (contoh: kontraktor, tenaga ahli).

#S.O.S. (Untuk Telegraphy) atau MAYDAY (Untuk Telephony)

Sekarang ini kapal menggunakan tanda bahaya MAYDAY. “Kecelakaan besar“ yang terjadi di atas kapal yang diakibatkan oleh hal - hal seperti tabrakan, kebakaran, ledakan, kandas, kerusakan besar, kerusakan karena cuaca atau kapal akan / sedang tenggelam yang mengakibatkan keselamatan /  kehidupan awak kapal, kapal, muatan terancam dan sudah tidak dapat ditangani lagi.


Prosedur untuk Mengidentifikasi Situasi Keadaan Darurat  di Kapal 

#Kebakaran di Ruang Akomodasi
Tindakan yang harus segera dilakukan:
  • Membunyikan alarm bagi yang pertama mengetahui (apabila tidak dilengkapi dengan sistem detektor otomatis).
  • Padamkan api dengan tabung pemadam jinjing (portable) yang mudah dan terdekat untuk dijangkau. 
  • Kelompok pemadaman lainnya membantu menyediakan selang kebakaran dan alat bantu pernafasan (Breathing Apparatus).
  • Tutup / matikan sistem peranginan (hisap dan buang) dan isolasi sistem listrik di sekitar area kebakaran. 
  • Hubungan komunikasi harus segera dilakukan segera setelah kejadian.
  • Pintu “Hot Door” sebaiknya dibuka setelah alat - alat yang diperlukan untuk pemadaman tersedia dan siap dipakai, agar api dapat segera dipadamkan secara efektif.

#Kebakaran di Sekitar Ruang Muat
Tindakan yang harus segera dilakukan:
  • Bunyikan alarm tanda bahaya kebakaran
  • Mengaktifkan Emergency Shutdown
  • Menginformasikan terminal dan petugas / tim pemadam kebakaran
  • Memastikan semua keran cargo tertutup
  • Memastikan operasi aliran muatan sudah tertutup
  • Memastikan apakah api dapat dikuasai


#Kebakaran di Sekitar Kamar Mesin   
Kebakaran ruang mesin adalah salah satu kebakaran yang sering terjadi karena adanya sumber penyebab percikan api dari bahan -  bahan yang mudah terbakar diantaranya adalah: Semburan balik dan kebocoran minyak dari boiler, Tumpahan minyak dari tangki minyak dan pipa sounding, pipa minyak pelumas atau pipa minyak yang menyemprot ke dalam permukaan panas atau ledakan crankcase atau exhaust manifold, Kebakaran dari pembungkus pipa yang basah oleh minyak.

Kebakaran dapat segera dipadamkan pada tahap awal.  Oleh karena itu usaha pemadaman harus dilakukan segera setelah kebakaran terjadi / diketahui.  Penundaan pemadaman akan menyebabkan api menyebar ke bagian lainnya, yang dapat menyebabkan asap tebal dan gas yang mudah terbakar.  Hal ini dapat menyebabkan sambaran api dan meluasnya kebakaran. Dalam hal seperti ini, segera semprotkan CO2 ke dalam ruangan yang terbakar.

#Kebakaran pada Waktu Kapal Sandar di Dermaga
Hal – hal yang harus dilaporkan dalam peristiwa kebakaran:
  • Bunyikan alarm tanda bahaya kebakaran
  • Mengaktifkan Emergency Shutdown
  • Memastikan apakah api dapat dikuasai

Bila tidak : Pemberitahuan kamar mesin untuk meninggalkan dermaga secepatnya.

#Tabrakan
Informasi mengenai tabrakan dengan kapal / benda lain harus segera dikirimkan ke kantor pusat, dan apabila memungkinkan Nakhoda diminta untuk menghubungi perwakilan P&I setempat untuk minta bantuan atau saran.

#Bocor / Tergenang Air (Flooding)
Kebocoran atau kebanjiran yang mengancam keseimbangan kapal apabila air masuk lebih cepat dari pada kemampuan kapal untuk memompanya keluar. Temukan kebocoran dan jika memungkinkan coba menghentikannya dengan tikar tabrakan (collision mat), tambalan baja (steel patch) atau tambalan semen (concrete patch). Pompa got / bilge keluar.


Operasi Penyelamatan Jiwa dengan Menggunakan Peralatan Keselamatan Jiwa      

#Evakuasi Kecelakaan dari Kamar Mesin
Bila terjadi kecelakaan di kamar mesin yang menyebabkan adanya korban, harus segara di evakuasi untuk mendapatkan pertolongan selanjutnya. Bila korban tidak sadarkan diri, korban dapat dievakuasi melalui emergency exit di kamar mesin dengan menggunakan tandu (stretcher) dan peralatan lain seperti katrol.

#Menyelamatkan Korban dari Ruang Tertutup
Yang dimaksud dengan ruang tertutup adalah tangki ruang muat, tangki ballast, atau ruangan sejenis lainnya yang biasanya dalam keadaan tertutup rapat.

#Orang Jatuh ke Laut (Man Overboard)
Apabila terjadi musibah Orang Jatuh ke Laut (MOB) Nakhoda / Perwira Jaga harus mengambil tindakan awal dengan melakukan olah gerak kapal sesuai dengan teori “Williamson Turn” atau teori lainnya yang memungkinkan serta melemparkan “Pelampung Penyelamat” lengkap dengan lampu dan isyarat asap. Isyarat yang diperdengarkan kapal adalah kode morse O   (- - -) dan meneriakkan “Ada Orang Jatuh ke Laut”.

#Meninggalkan Kapal / Abandon Ship
1. Menggunakan Sekoci & Rakit Penolong / Life Raft
  • Komando untuk meninggalkan kapal harus diberikan secara lisan oleh Nakhoda atau orang yang menggantikannya, setelah dipertimbangkan dengan baik cantumkan tanggal dan waktu meninggalkan kapal.
  • Berkumpul di stasiun lifeboat, beritahu anjungan jika ada awak kapal yang hilang.
  • Patuhi perintah perwira yang bertugas dan siapkan sekoci (lifeboat) dan rakit - rakit (liferaft) untuk peluncuran. 
  • Turunkan lifeboat ke air atas perintah lisan dari Nakhoda
  • Setelah mendengar tanda “Tinggalkan kapal”, segera pakai baju penahan dingin (selimut) / baju musim dingin, sepatu dan jaket keselamatan.
2. Operasi Helikopter
Helikopter dapat digunakan sebagai alat / sarana untuk meninggalkan kapal atau operasi / tindakan darurat lainnya. Pendaratan helikopter di atas kapal hanya dimungkinkan pada kapal - kapal tertentu sesuai dengan peraturan dan yang mempunyai fasilitas untuk hal tersebut.

Semoga artikel tentang Mengidentifikasi Keadaan Darurat Di Kapal bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian. 


Ruang Marine