Mengupas Cara Bisnis Startup Dengan Bakar Duit

Mengupas Cara Bisnis Startup Dengan Bakar Duit

Sesuai dengan judul artikel ini saya ingin mengupas rasa sok tau saya tentang Mengupas Cara Bisnis Startup Dengan Bakar Duit. Saya salah satu penggiat dan penggila startup, banyak hal yang ingin saya pelajari baik dari literatur maupun touch langsung dengan startup

Hampir tiap hari saya menggunakan jasa transportasi online untuk aktivitas saya sehari-hari, mulai dari Gojek, Grab dan Uber. Beberapa hari yang lalu saya sempat menggunakan jasa Uber. Momen menggunakan jasa transportasi online merupakan saat saya mencari banyak informasi dari driver.

Agar tidak bosen di mobil selama perjalanan yang lumayan macet saya bertanya ke Pak Supirnya.
Saya: "Pak hari ini sudah dapet berapa penumpang??" 
Uber Driver: "Lumayan Pak. Sudah 6 sama bapak" Pada saat itu pukul 17:00.
Saya: "Memangnya keluar jam berapa Pak sudah dapet 6 penumpang?"
Uber Driver: "jam 10 11 an lah Pak"

Selama perjalanan saya banyak sekali mendapatkan informasi tentang aplikasi Uber yang saya sama sekali gak ngerti bagaimana sistem didalamnya. Bapak supir ini sebelumnya merupakan supir taxi Bl*e Bird dan memutuskan joint dengan Uber. Keputusannya tidak meleset karena pendapatan menjadi driver Uber ternyata lebih menggiurkan dari pada sebelumnya.

Menurut driver tersebut angka argo tidak sepeserpun Uber memotongnya, malah dari argo tersebut Uber menambahkan Rp30.000 pada jam-jam tertentu. wew..?? Apalagi sempat ada promo dari mana saja ke Thamrin GRATIS. edaaaann..!! bayangkan berapa jumlah pengguna Uber dalam satu harinya yang melayani promo tersebut. Hal yang sama dilakukan Gojek dan Grab (untuk motor) yang kerap memberikan promo di bawah 15km. tapi tetap membayar full malah lebih untuk yang driver dan menambahkan Rp50.000 jika mendapatkan 5 s/d 8 poin. weleehh..welehh.. Gak kebayang berapa juta yang harus di keluarkan setiap harinya itu Perusahaan.

Sayangnya saya sudah googling, yahoo-ing dan bing-ing tidak mendapatkan informasi berapa Duit yang "dibakar" Uber dan Gojek untuk promo-promo yang hampir selalu ada. Istilah "bakar duit" sering digunakan untuk mendeskripsikan promo yang dilakukan startup guna mendapatkan jumlah pengguna yang masif dalam waktu cepat. Promo tersebut tidak bisa ditutup dari pemasukan yang didapat, tetapi dihitung sebagai investasi marketing.

Untuk startup dengan kapital yang besar, mereka sangat mudah untuk promo model seperti ini. Namun untuk anda, yang modalnya pas-pasan, bagaimana anda mengakalinya?? dan bagaimana anda bisa bersaing dengan mereka???

Dalam memilih startegi "bakar duit" untuk dijadikan sistem markerting harus dipertimbangkan matang-matang karena kemungkinan menderita kerugian dan tidak mampu membiayai operational lagi sangat besar. Bukannya untung malah jadi buntung dan pada akhirnya startup tersebut gulung tikar. Contohnya seperti Homejoy (walaupun akhirnya mendapatkan suntikan dana lagi yang sebelumnya menderita kerugian puluhan juta dollar) dan startup lainnya.

Mengupas Cara Bisnis Startup Dengan Bakar Duit

Bakar duit atau istilah kerennya burn rate adalah tingkat dimana startup menggunakan dana cadangannya, baik dari kantong sendiri maupun dana Venture Capital (VC) untuk membiayai pengeluaran overhead sebelum mendapatkan profit cash flow dari operational usahanya dengan kata lain:

"Burn Rate mengukur berapa besar cash flow negatif yang harus ditomboki terlebih dahulu oleh startup hingga startup mendapatkan cash flow yang positif."

Scott Nolan, partner di Founder Fund, menghindari berinvestasi pada startup kecuali yang "menghabiskan" kas. Kenapa bisa begitu?? Mereka tertarik berinvestasi pada startup yang tahu kas mau digunakan untuk apa sehingga kas ini akan dikonversi menjadi aset dan tentunya meningkatkan burn rate-nya. 

Bisnis yang positif cash flow dicerminkan dari usaha startup untuk mengubah kas menajdi aset yang mendatangkan cash flow positif pada akhirnya. Justru mereka menghindari startup yang tidak punya ide apa yang harus dilakukan dengan kas yang berlebih. Sebagai gambarannya, jika anda seorang William Tanuwijaya, founder Tokopedia, mendapatkan kucuran dana 100juta dolar dari VC, mau digunakan untuk apa? Jika anda belum siap menjawab, baiknya anda pikir ulang sebelum anda bertemu dan mencari dana ke VC.

Burn-rate sendiri terdiri atas dua macam, yaitu:

  1. Gross Burn adalah seluruh pengeluaran yang harus dibayarkan oleh startup setiap bulannya sebelum dikurangi dari revenue yang masuk.
  2. Net Burn adalah seluruh pengeluaran dikurangi dari revenue yang masuk.
Misalnya, startup anda sudah mendapatkan revenue Rp60juta per bulan, tetapi total pengeluaran anda mencapai Rp100juta per bulan. Dengan begitu, gross burn adalah Rp100juta per bulan, tetapi net burn-nya hanya Rp40juta per bulan. 

Dengan demikian, apabila anda punya dana kas Rp1 miliar dan angka net burnnya konstan, startup anda bisa survive hingga 25 bulan. Namun bila anda hanya punya kas Rp500juta, startup anda hanya bisa bertahan hidup dalam satu tahun. Angka net burn ini mengindikasikan kapan startup anda dan initial investor di starup anda (jika ada) perlu untuk raising dana berikutnya?

Ini juga sebagai indikasi bagi calon investor baru tentang kapan startup anda perlu dana dan seberapa banyak dana yang anda butuhkan dari mereka. Dari sinilah akan timbul pertanyaan yang harus anda bisa jawab. 

Misalkan, anda ingin mencari dana 1 juta dolar (Rp 14 miliar), bila net burn hanya Rp40 juta, sebanyak itu digunakan untuk apa saja? kita sering dengar, banyak startup menjawab pertanyaan tesebut adlah untuk merekrut sumber daya manusia serta melakukan promosi dan marketing lebih gencar, tanpa dijelaskan lebih detail, bagaimana mereka melakukan activitas tesebut.   

Semoga artikel Mengupas Cara Bisnis Startup Dengan Bakar Duit bisa bermanfaat bagi para pembaca dan pemilik startup lokal.



Ruang Bisnis