Seluk Beluk Mitra Bisnis Strategis

Seluk Beluk Mitra Bisnis Startegis

Saat kita berfikir untuk memulai binis secara mandiri banyak pertimbangan yang harus dipertimbangkan untuk kemajuan dan perkembangan usaha tersebut. Kita harus bisa membedakan antara merasa mampu dengan benar-benar mampu. Ini buka sekedar masalah modal karena bisnis ini sangat luas aspeknya. Bukan hanya sekedar masalah produksi/operasional, pemasaran, keuangan, pengelolaan karyawan, pelayanan konsumen, hubungan baik dengan pihak ketiga. Namun, semuanya menjadi kesatuan utuh yang tidak bisa dianggap remeh. Bahkan mencakup aspek-aspek lain yang tidak kalah pentingnya. Memulai bisnis dengan bermitra memberikan beberapa keuntungan, diantaranya:

1. Modal Bisa Lebih Besar

Karena bermitra, tentu saja modal bisnis bisa semakin besar. Patungan modal dengan mitra memungkinkan untuk memulai bisnis dengan skala yang lebih besar. Skala lebih besar itu penting karena bisa menghemat berbagai biaya.

2. Ide dan kreativitas bisa lebih banyak

Pemikiran beberapa orang tentu jauh lebih baik bila dipikirkan seorang diri. Bermitra memungkinkan proses brainstorming untuk mencari dan memilih ide terbaik.

3. Beban bisnis bisa dibagi

Bermitra memungkinkan saling berbagi peranan, terurama beban finansial, pemasaran, dan jaringan. Setiap mitra sebaiknya menggunakan sumberdaya masing-masing untuk membesarkan bisnis bersama.

4. Masalah bisa dipecahkan lebih cepat

Masalah terjadi karena kita tak memiliki apa yang dibutuhkan. kemitraan bisa memberikan hal-hal yang kita tidak miliki. Dengan begitu, ketika masalah terjadi akan semakin cepat menemukan solusi dan menyelesaikan secara tuntas.

5. Jaringan bisnis bisa lebih luas

Tiap mitra tentu memiliki keluarga, teman, kenalan, dan sebagainya. Ini potensi besar untuk membangun jaringan bisnis. Semua jaringan kenalan adalah potensi pasar yang potensial.


Meskipun demikian, ada resiko yang juga harus kita perhatikan.

1. Rentan terjadi konflik

Lebih banyak orang, akan semakin banyak kebutuhan, kemauan, dan tuntutan. Ini harus benar-benar disikapi. kepemimpinan yang baik jelas dibutuhkan untuk menyatukan semua kepentingan dan mengatur sistem dengan baik.

2. Dibutuhkan kesabaran yang ekstra untuk saling memahami

Sifat dan kepribadian masing-masing mitra berbeda. Untuk itu, setiap pihak dituntut kesabarannya agar bisa saling memahaminya dengan pendekatan dan komunikasi yang baik.

3. Kemungkinan ada pihak yang merasa dirinya lebih berjasa

Bila tidak ingin ditangani sedari awal, hal ini dapat memicu konflik yang besar. Untuk itu sistem, aturan main, dan cara kerja setiap mitra harus diatur dengan jelas. Siapa yang mengerjakan bidang apa atau mendapat imbalan seberapa besar, harus dibuat dan dipatuhi bersama.

4. Ketika bisnis sudah besar, bisa pecah kemitraan.

Keserakahan selalu ada, namanya juga manusia. Inilah resiko bisnis yang tumbuh semakin besar. Bukan hanya pecah kemitraan, tapi bisa menyisakan luka yang tidak sedikit.

5. Masalah bisnis bisa merembet menjadi masalah pribadi

Berapa banyak pertemanan dan persaudaraan yang berujung pada permusuhan karena bisnis? Hal ini harus benar-benar dicegah.


Untuk menyikapi keuntungan dan risiko, sebuah kemitraan harus memiliki beberapa kesepakatan.

1. Kepemilikan bisnis

Kepemilikan binis harus jelas. Setiap orang yang berkontribusi dalam porsi yang sebanding, terutama pada masa awal berdirinya bisnis, seperti soal modal, ide, alat, fasilitas, dan sebagainya. Semua kontribusi itu harus dinilai. Persentase kepemilikan harus sedari awal ditentukan. Misal dari 100% kepemilikan bisnis, setiap mitra punya andil saham berapa persen? Kesepakatan kepemilikan ini sebaiknya dinotariskan.

2. Tugas masing-masing

Kepemilikan berbeda dengan tugas. Mungkin ada pemilik juga menjadi pengelola sehari-hari. Namun, ada juga pemilik yang hanya mau jadi pemegang saham saja. Struktur kerja harus dibuat secara tegas dan dipatuhi bersama. Job Description masing-masing fungsi pun harus jelas.

3. Hak masing-masing

Pemegang saham akan mendapatkan hak deviden, sementara pengelola hanya mendapat gaji. ini harus ditetapkan dengan baik. Bila ada pemegang saham yang juga jadi pengelola, tidak menjadi masalah asalkan sesuai dengan kemampuannya. Berarti, dia harus mendapatkan deviden dan gaji.

4. Cara pengambilan keputusan

Bisnis adalah seni mengambil keputusan. Maka dalam kemitraan cara pengambilan keputusan harus tegas. Hal-hal teknis diputuskan oleh pengelola. Hal-hal taktis diputuskan oleh pengelola. Hal-hal taktis mungkin adalah hasil diskusi antara pemilik dengan pengelola. Hal-hal startegis diputuskan pemilik dengan memperhatikan pendapat pengelola. Keputusan juga disepakati, entah dengan car musyawarah, pemungutan suara, atau diserahkan ke satu orang untuk memutuskan.

5. Penyelesaian bila terjadi konflik

Ini langkah antisipasi, sebaik apa pun teman dan sahabat, konfik masih mungkin terjadi. makin dekat seorang teman, biasanya potensi konfliknya lebih besar. Karena itu, pada awal sudah ada kesepakatan yang mengatur bisa suatu saat dimungkinkan terjadi konflik besar.

Seluk Beluk Mitra Bisnis Strategis

Berapa Jumlah Mitra Startegis?

Bisnis dengan bermitra sebaiknya maksimal lima orang atau minimal dua orang. Jumlah 5 orang menjadi maksimal. lebih dari itu akan menimbulkan lebih banyak kerepotannya dari pada manfaat yang bisa diambil (contoh: pengumpulan uang atau modal berjamaah). Pada mitra berjumlah dua orang kepemilikan saham diatur 51% : 49%. Jadi pihak yang memiliki kepemilikan saham lebih besar memiliki suara dominan sebagai penentu kebijakan.
Hal diatas merujuk pada mitra inti. Bila memang bisnis kita berbentuk kemitraan yang banyak aturan main harus dibentuk. Mitra yang banyak untuk mengurusi unit-unit bisnis kecil per mitra itu, bahkan untuk memiliki bisnis secara keseluruhan. Berbeda bila bisnis kita sudah berbentuk perseroan terbaatas dan kita lakukan Initial Public Offering (IPO) di bursa efek. Saham kita bisa dimiliki banyak orang. 


Semoga artikel tentang Seluk Beluk Mitra Bisnis Strategis ini bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian. Aamiin

Ruang Bisnis