Seputar Asuransi Laut & Jenis Perjanjian DIdalamnya

Seputar Asuransi Laut & Jenis Perjanjian Didalamnya

Di Ruang Marine/Perkapalan kali ini saya ingin bercerita "Seputar Asuransi Laut & Jenis Perjanjian Didalamnya". Sebelumnya mari kita jabarkan terlebih dahulu definisi dari Asuransi. Secara umum Asuransi adalah kemauan mengeluarkan kerugian kecil (sedikit) yang pasti sebagai pengganti kerugian-kerugian besar yang belum pasti. Maksud kalimat ini adalah orang bersedia membayar sedikit secara rutin saat sekarang ini demi menghadapi kerugian-kerugian besar dimasa akan datang yang belum pasi waktunya. ^_^



Contoh kasus pada asuransi laut (marine insurance) adalah dengan mempertanggungkan kapal, muatan (cargo), dll. Perusahaan Pelayaran membayar premi setiap bulannya ke Perusahaan Asuransi yang apabila terjadi accident atau kondisi lainnya Perusahaan Asuransi akan mengganti kerugian-kerugian sesuai dengan kesepakatan diawal.

Pada mulanya asuransi laut hanya menjamin resiko kerugian total atas kapal (total loss) sampai pada perkembangannya polis asuransi juga menjamin kerugian sebagian atas kapal (partial loss), menjamin kerugian terhadap barang-barang (cargo), serta kerugian yang terjadi yang menyangkut biaya-biaya angkutan (freight). 

Pada Asuransi Laut jenis kerugian yang dapat dipertanggungkan adalah:

  1. Kapal serta perlengkapannya (vessel interest)
  2. Barang-barang muatan (cargo)
  3. Penghasilan/pendapatan dari hasil uang tambang (freight) komisi dan keuntungan yang diharapkan
  4. Beban wajib (liability interest) yang menimpa Pemilik Kapal.

Contoh beban wajib: Kapal A ditabrak oleh Kapal B, dalam hal ini timbul beban wajib terhadap Kapal A, dimana Kapal B harus mengganti kerugian yang terjadi atas Kapal A.



Dalam mempertanggungkan kapalnya, Pemilik Kapal harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Kapal Layak Laut (Sea Worthiness). Pada umumnya Perusahaan Asuransi memilih persyaratan Kapal yang dapat mereka asuransikan adalah apabila Kapal tersebut "Layak Laut" artinya kapal dilengkapi dengan nahkodal, awak kapal (ABK), perlengkapan kapal yang ditentukan oleh Undang-Undang Pelayaran. Di Indonesia Badan atau Institusi yang menentukan Kapal "Layak Laut" atau tidak adalah Biro Klasifikasi Indonesia, Syahbandar dan Direktorat Jendral Perhubungan Laut.
  2. Deviasi (Deviation). Kapal yang diasuransikan harus memenuhi persyaratan trayek/rute yang telah ditetapkan, tidak boleh mengadakan penyimpangan pada trayek/rute yang telah ditetapkan sebelumnya.
  3. Legalitas. Kapal hasus memenuhi syarat-syarat legalitas/hukum yang berlaku. Contoh kasus: Apabila Kapal di charter dari luar negeri harus menggunakan bendera Indonesia, termasuk didalamnya kapal yang dibeli dengan cata leasing (sewa beli).
Seputar Asuransi Laut & Jenis Perjanjian Didalamnya

Dalam Asuransi Laut terdapat beberapa macam jenis perjanjian (clause), diantaranya:
  1. Warehouse to warehouse clause, yaitu asuransi antar pengiriman barang dari satu gudang Pelabuhan ke Gudang Pelabuhan lainnya.
  2. Free of strike, riot and civil commotions, yaitu kerugian yang disebabkan oleh pemogokan. Contohnya terjadi pemogokan kerja oleh buruh Pelabuhan, sehingga menimbulkan kerusakan akibat tidak bisa dimuat/dibongkar ke Kapal. Kondisi ini dapat diasuransikan.
  3. Memorandum clause / deductible clause, Sering kali kerusakan-kerusakan kecil mengganggu administrasi Perusahaan untuk mereaslisasikan pembayarannya. Dalam hal ini ditentukan dalam bentuk persentasai (%) dari seluruh barang yang diasuransikan, misalnya 3%-5%, bila kurang dari persentasi diatas Perusahaan tidak akan mengganti kerugian tersebut.
  4. Free of partticular average clause. Apabila terjadi kerugian kecil, ada polis yang menyatakan bahwa barang-barang tidak diganti oleh Perusahaan Asuransi seratus prsen. Perusahaan akan mengganti sebagian saja dan ini tergantung kepada perjanjian antara tertanggung dan Perusahaan Asuransi.
  5. Free of particular average of american clause. Perusahaan akan mengganti kerugian jika terjadi bencana yang disebutkan dalam kontrak tersebut. Misalnya kapal tenggelam, terdampar dan terbakar.
  6. Collision clause. Perjanjian ini maksudnya apabila 2 Kapal bertabrakan di laut, masing-masing mengadakan pertanggungan untuk menghadapi resiko yang mungkin terjadi. Dalam polis asuransi harus dinyatakan bahwa kerugian yang diderita akibat tabrakan Kapal akan diganti oleh Perusahaan Asuransi.
  7. Negligence clause. Perjanjian ini menjelaskan tentang kelalaian Nahkoda yang dilakukan secara tidak sengaja. 
Semoga artikel di Ruang Marine/Perkapalan ini bermanfaat bagi anda yang telah membacanya ^_^. 



Ruang Marine/Perkapalan