Dilema Perusahaan Pelayaran / Galangan Kapal & Karyawan Ketika Ada Audit Tambahan

Audit Tambahan Perusahaan Pelayaran





















Di Ruang Marine / Perkapalan kali ini saya ingin bercerita tentang "Dilema Perusahaan Pelayaran / Galangan Kapal & Karyawan Ketika Ada Audit Tambahan"Suatu Perusahaan Pelayaran atau Galangan Kapal dikatan baik dan memiliki kualitas yang ciamik salah satunya karena memiliki standard yang baik secara kualitas pelayanan dan managemen Perusahaan itu sendiri. Untuk memenuhi standard dari beberapa institusi standarisasi Perusahaan harus lulus dari audit yang di laksanakan oleh badan tersebut. 


Permasalahannya pegawai yang diberikan tanggung jawab untuk mengurus audit ataupun menjadi auditor merasa bahwa pekerjaan tersebut bukan termasuk pekerjaannya yang tertera dalam job descriptionnya. Sedangkan Perusahaan sendiri beranggapan semua pekerjaan yang berhubungan terhadap bisinis Perusahaan merupakan tanggung jawab bagi setiap Pegawai demi kelancaran bisnis Perusahaaan tersebut.

Contoh pertama yaitu pada kasus Annual Audit ISO 9001 yang di laksanakan setiap tahunnya dan perwakilan tiap-tiap departemen harus menjadi auditor yang mengaudit departemen lainnya. Jika kita lihat kembali job description masing-masing pegawai kemungkinan tidak tertulis semua pegawai harus sanggup dan mau menjadi auditor ketika Perusahaan Pelayaran atau Galangan Kapal membutuhkan. Padahal dalam setiap audit bisa memakan waktu 1-2 minggu. Mulai dari audit, meeting hasil audit, closing temuan dan membuat laporan untuk mempersiapkan external audit

Dari hal diatas sebagian karyawan menganggap pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan tambahan yang diemban Pegawai dan Perusahaan Pelayaran atau Galangan Kapal harus memberikan allowance atas pekerjaan tersebut. Contoh lainnya ketika Perusahaan sedang mengikuti tender di Kementerian ataupun di Perusahaan swasta MIGAS. Hampir semua elemet Perusahaan sibuk membantu kesiapan dokumen dan data untuk dibuatkan laporan sebagai persyaratan utama sebagai Peserta Tender. Bisa jadi persiapan ini memakan waktu berminggu-minggu, bahkan sampai harus lembur pulang tengah malam. Keluhan pun terjadi dari Pegawai karena pekerjaan bertambah banyak, tapi tidak ada kompensasi yang didapatkan dan apabila terjadi kesalahan dalam proses tersebut Pegawai ikut bertanggung jawab atas kelalaiannya. 

Kasus-kasus seperti ini bukan satu atau dua Perusahaan saja yang terjadi di Indonesia. Hampir di setiap Perusahaan Pelayaran atau Galangan Kapal kecil dan menengah di Indonesia mengalaminya. Terutama bagi Perusahaan-Perusahaan yang tidak memiliki departemen atau personel khusus yang mengurus audit. Selayaknya kemajuan suatu Perusahaan Pelayaran atau Galangan Kapal harus diiringi dengan visi misi yang sama dengan Pegawai-pegawainya dan lebih mementingkan kepentingan bersama, bukan hanya kepuasan pelanggan yang selalu digadang-gadangkan, tapi kenyamanan bagi elemen yang bersinggungan langsung dengan pelanggan malah tidak terpuaskan dalam hal kesejahteraan.

Dilema Perusahaan Pelayaran / Galangan Kapal dan Karyawan Ketika Ada Audit Tambahan menjadi momok tersendiri bagi Perusahaan. Kalo menurut saya sih lebih baik dibicarakan baik-baik antara perwakilan tiap Departemen dengan Top Management, saling tukar pikiran. Kalau memang Perusahaan tidak memiliki budget lebih untuk memberikan allowance untuk audit yang dibabankan kepada Pegawai, mungkin bisa diberikan pilihan bonus yang akan dibagikan apabila Perusahaan memiliki Profit yang melebihi target Perusahaan dan Pegawai harus bisa bekerja dengan penuh tanggung jawab demi kemajuan Perusahaan. Kalau Menurut anda apa sebaiknya yang dilakukan bagi Perusahaan dan Pegawai yang ada dalam naungan Perusahaan Pelayaran atau Galangan Kapal tersebut?? Saling share yah ^_^. 

Ruang Marine/Perkapalan